The Magic of Membuat Kesepakatan Bersama Anak (1)

Sejak bulan September, sekolah kami ada jadwal tatap muka di sekolah seminggu sekali. Setiap kelas dibagi menjadi dua kelompok, untuk meminimalisir kerumunan.  Hari itu teman-teman kelompok pertama masuk tatap muka di sekolah. Seperti biasa, mereka sangat ceria dan ekspresif. Melepas rindu belajar di sekolah dan mungkin kejenuhan terlalu lama di rumah. 

Kegiatan berjalan sebagaimana biasanya. Saat jam kegiatan, tiba-tiba Mbak Aida dan Mbak Aira meminta izin untuk bermain di playground. Akhirnya kami coba mengajaknya ngobrol. Mengajak berpikir logis dan kritis. "Sekarang kan waktunya kegiatan, gimana kalau bermain di playgroundnya nanti saat jam istirahat ?", jelas kami mencoba memberi pengertian. Mereka terlihat mencerna apa yang kami katakan.

Tapi, ternyata mereka masih mencoba bernegosiasi. "Kami pengennya main sekarang, Bu", sahut mereka. Akhirnya kami membuat kesepakatan bersama. 

"oke deh, boleh bermain di playground sekarang. Tapi kan kita masih ada kegiatan nih yang harus dilakukan, jadi solusinya gimana donk ?", mencoba mengajak mereka berpikir logis dan mencari solusi. "gimana kalo kita mainnya lima menit aja, Bu ? Boleh ?", mereka mencoba menawarkan solusi dan idenya.

Akhirnya kami menyepakati itu. Mereka berlari menuju playground dan bermain. Di tengah-tengah asyik bermain,  mereka bertanya pada guru yang ditemui di dekat playground. "Bu, sekarang jam berapa ? Sudah lima menit ?". Guru yang ditanya agak bingung. "Lah emang tadi bermainnya mulai jam berapa ? Sepertinya sudah lima menit Mbak. Emang kenapa toh ?". Mereka mencoba menjelaskan, "kita tadi kesepakatanya bermain 5 menit, jadi sekarang harus kembali ke kelas."

Akhirnya mereka pun bergegas kembali ke kelas dengan ceria dan sudah lebih siap untuk belajar.

Betapa bahagianya menjadi anak-anak ketika orang dewasa mau memahami mereka. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Babah

Menumbuhkan Literasi Sejak Dini